Sanggau | i sebuah bengkel sederhana yang berada di Jalan Balaikarangan Empat, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, seorang pria paruh baya tampak sibuk membongkar bagian belakang kulkas yang sudah terlihat usang. Tangan-tangannya lincah, matanya tajam menatap setiap kabel dan komponen pendingin. Namanya Irwansyah, atau yang akrab disapa Ambo oleh warga sekitar. Ia bukan lulusan sekolah teknik, bahkan hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama. Namun siapa sangka, di balik sederhananya latar belakang pendidikan, Ambo adalah teknisi serba bisa—mulai dari kulkas, kipas angin, hingga alat elektronik rumah tangga lainnya.
“Segala jenis kulkas dan kipas, insya Allah bisa saya perbaiki,” ujar Irwansyah pada Jumat (5/7/2025) dengan nada yakin saat ditemui di bengkelnya. Tak hanya memperbaiki, Ambo juga aktif melakukan jual beli barang elektronik. “Biasa saya beli dari pemulung, rusak-rusak, lalu saya betulkan. Kalau sudah jalan, saya jual kembali. Kalau kulkas, minimal bisa laku satu juta rupiah, tergantung kondisi. Tapi ya, sebelumnya harus cari sparepart yang cocok dulu,” jelasnya sambil menunjuk salah satu kulkas hasil perbaikan.
Perjalanan hidup Irwansyah tidak serta-merta langsung menekuni dunia teknisi. Ia memulai usaha servis ini sekitar tiga tahun yang lalu. Sebelumnya, ia dikenal sebagai seorang tabib bekam yang cukup sering dipanggil warga untuk terapi alternatif. Namun karena merasa jenuh dan ingin mencoba hal baru, ia memutuskan banting setir. “Awalnya coba-coba saja bongkar kipas rusak. Lama-lama terbiasa. Sekarang malah jadi pekerjaan utama,” katanya sambil tertawa ringan.
Lahir 40 tahun lalu di Sulit Air, Sumatera Barat, Irwansyah adalah perantau sejati. Ia telah meninggalkan kampung halamannya sejak belasan tahun lalu. Bersama istrinya yang seorang guru sekolah dasar dan tiga anak mereka, ia menetap di Kalimantan Barat demi mengejar penghidupan yang lebih baik. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ucapnya pelan, menyiratkan filosofi hidup yang sederhana namun dalam maknanya.
Selain sebagai teknisi, Irwansyah juga dikenal sebagai aktivis keagamaan. Ia aktif mengikuti kegiatan jamaah tabligh, kelompok dakwah Islam yang dikenal dengan semangat merantau demi menyebarkan ajaran Islam secara damai. “Istilah kami, keluar. Kami tinggalkan rumah, kampung halaman untuk beberapa hari atau minggu demi berdakwah. Begitu juga para sahabat Rasul dahulu,” tuturnya.
Bagi Irwansyah, pekerjaan sebagai teknisi hanyalah salah satu jalan mencari nafkah. Tapi semangat berbagi ilmu dan nilai-nilai Islam tetap menjadi napas dalam kesehariannya. Di sela-sela memperbaiki kulkas, ia tak jarang berdiskusi soal keimanan, berbagi motivasi hidup kepada pelanggan yang datang. “Yang penting tetap jujur dan istiqamah. Rezeki itu bukan soal banyak atau sedikit, tapi berkah atau tidak,” tutupnya. (red)



















